Membaca Sains yang Menggoyahkan Cara Pandangku tentang Realitas

 

Membaca Sains yang Menggoyahkan Cara Pandangku tentang Realitas

 

Setiap makhluk hidup adalah saudara


 

Identitas Buku

Judul

:

The Magic of Reality (Sihir Realitas)

Penulis

:

Richard Dawkins

Tahun Terbit

:

2025 (KPG—Kepustakaan Populer Gramedia)

Genre

:

Sains

Tema Besar

:

cara sains menjelaskan dunia—dari mitos, dongeng, dan cerita turun-temurun, menuju penjelasan ilmiah yang terukur dan dapat dibuktikan

Fakta Singkat

:

buku sains populer yang disampaikan dengan bahasa sederhana, mengajak pembaca untuk bersikap skeptis secara sehat dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja

 

Aku baru saja menamatkan sebuah buku sains berjudul The Magic of Reality karya Richard Dawkins, yang diterbitkan dan diterjemahkan oleh KPG. Tapi sebelum masuk ke bukunya, ada satu fenomena aneh yang sepertinya hanya bisa dipahami oleh para bookish-hoarder. Uhuk!

Pada bulan Desember lalu, aku sebenarnya sudah berniat “puasa beli buku” setelah menutup pembelian sekitar sebelas buku, dan semuanya sudah di-unboxing, rak sudah penuh, hati juga sudah membuatkan peringatan agar menyudahi kegilaan membeli buku. Tapi ternyata niat hanyalah niat. Desember berkata lain, dan aku justru makin kalap membeli buku. GILA.

Godaan datang tanpa aba-aba. Iklan buku murah dengan diskon menggiurkan muncul begitu saja di layar, menggoda jempol dan pikiranku yang memang mudah goyah kalau berurusan dengan buku. Dari satu klik, jadi dua. Dari satu buku, jadi keterusan. Hingga akhirnya aku membeli satu buku seri sains dari KPG—dan, seperti yang bisa ditebak, kebablasan. Heleh. Tapi entah kenapa, di balik rasa “duh kok beli lagi”, ada juga dorongan yang lain seperti keinginan untuk membaca lebih beragam genre bacaan dan memberi ruang bagi bacaan sains yang selama ini jarang kuberi kesempatan untuk menggoda iman bookish-overthink ini.

Awal tahun 2026, aku pun memutuskan membaca salah satu seri sains tersebut. Pilihanku jatuh pada The Magic of Reality. Jujur saja, awalnya aku memilih buku ini karena hal yang sederhana yaitu judul dan sampulnya menarik. Ada rasa penasaran yang membuatku memutuskan untuk memilihnya sebagai bacaan awal tahunku. Dan ternyata, rasa penasaran itu terbayar. Baru beberapa hari membaca, buku ini sudah selesai. Mengalir, ringan, dan tanpa terasa menetap lama di kepala. Bahkan menggoyahkan cara pandangku terhadap realitas! Uhuk!

Yang membuat buku ini begitu menarik adalah cara Richard Dawkins menyusun pembahasan. Alih-alih langsung menyodorkan penjelasan ilmiah yang kaku, ia hampir selalu memulai pembahasannya dengan kisah-kisah, seperti mitos, dongeng, urban legend, atau cerita tutur tinular lainnya tentang penciptaan manusia, bumi, pelangi, dan berbagai fenomena alam lainnya. Setelah itu barulah ia mengajak pembaca masuk ke penjelasan ilmiah yang terukur, dapat dibuktikan, dan bisa dipercaya. Misalnya ketika menjelaskan pelangi, penulis membahas tentang kenapa sih  warnanya selalu berurutan seperti itu—lalu penulis akan menjelaskannya secara sangat rinci, tapi disampaikan dengan bahasa yang sudah amat sangat disederhanakan. Bahkan pembaca awam pun tidak perlu sampai garuk-garuk kepala karena kebingungan dengan istilah yang digunakan.

Lalu, di awal ulasan ini aku menuliskan kutipan “Setiap makhluk hidup adalah saudara” —penasaran nggak??? Jadi pada salah satu bab di buku ini Dawkins menjelaskannya dengan sabar, detail, dan jelas tentang mengapa sih semua makhluk hidup, termasuk manusia, hewan, tumbuhan hingga bakteri, dsb—pokoknya makhluk hidup—itu bersaudara. Bahasa atau istilah yang digunakan sangat mudah untuk dipahami orang awam. Ia membawa pembaca memahami bahwa manusia bukan hanya berkerabat dengan kera, simpanse, atau monyet seperti yang kita ketahui tentang teori evolusinya Charles Darwin—tapi jauh lebih luas dari itu, dan pastinya mengguncang cara pandangmu selama ini. Di titik ini, jika kamu penasaran, kamu harus baca bukunya secara langsung. Buku sains satu ini seru banget karena membahas hal ilmiah tanpa terasa sulit, rumit, ataupun njelimet.

Pada akhirnya, The Magic of Reality mengajak pembacanya untuk bersikap skeptis—dalam arti yang sehat, yaitu dengan selalu mempertanyakan cerita, mitos, dan klaim apa pun sebelum mempercayainya. Seperti kata penulisnya: pertanyakan dulu, jangan langsung percaya. Jika ada jawaban yang bisa dibuktikan secara ilmiah, maka itu layak dipercaya. Jika tidak, ya anggap saja sebagai cerita—tak perlu dipusingkan berlebihan. Dan justru dari cara penyampaian yang santai dan selow itulah, buku ini pelan-pelan berhasil menggoyahkan cara pandangku tentang realitas!

Aku memberi buku ini 4 dari 5 bintang. Satu bintangnya hilang bukan karena isinya, melainkan karena keputusan penerbit yang menghilangkan ilustrasi dan menjadikannya text only. Padahal, dari penulisnya sendiri, buku ini sebenarnya dilengkapi ilustrasi—bahkan di beberapa bagian ia merujuk seperti gambar di atas atau ilustrasi sebelumnya. Rasanya sayang sekali, karena kehadiran ilustrasi tentu akan membuat pengalaman membaca jadi jauh lebih kaya. Meski begitu, buku ini tetap sangat layak dibaca. Terutama buat kamu yang suka melompat-lompat genre dan ingin mengeksplorasi bacaan sains yang ramah, terjemahan yang mudah dipahami, dan mengajak kita pelan-pelan memahami cara kerja dunia—hingga akhirnya, BOOM, menggoyahkan cara pandang kita tentang realitas. Selamat membaca, salam literasi.


Tautan Pembelian: https://s.id/BukuSihirRealitas

 

Komentar

KAMI BERHAK UNTUK:

Menghapus komentar yang tidak mendidik, merendahkan atau menistakan suatu golongan, serta pertimbangan kenyamanan publik lainnya. Kami harap setiap komentar yang muncul di blog ini ramah untuk dibaca pengguna di segala rentang usia. Mohon cerdas dalam berkomentar.