Reset Indonesia dan Kenyataan Pahit di Balik Narasi Pembangunan
Reset Indonesia dan Kenyataan Pahit di Balik Narasi Pembangunan
Siapa yang
Diuntungkan dari “Pembangunan”?
Sebuah Catatan
Warga Setelah Membaca Reset Indonesia
Identitas Buku
|
Judul |
: |
Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru |
|
Penulis |
: |
Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, Benaya Harobu |
|
Tahun Terbit |
: |
2025 (Koperasi Indonesia Baru, Patjarmerah) |
|
Genre |
: |
Sosial-Politik |
|
Tema Besar |
: |
Krisis Keadilan dan Perampasan Ruang Hidup atas Nama Pembangunan |
|
Fakta Singkat |
: |
Buku ini mengajak pembaca untuk tidak netral, karena
netralitas di tengah ketidakadilan berarti berpihak pada penindasan. Pesan
utamanya jelas bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja, dan perubahan
membutuhkan kesadaran serta keberanian warga negara untuk bersuara. |
Sebenarnya
sebelum memutuskan membeli buku ini, aku masih menjadi kaum mendang-mending
untuk membeli buku Reset Indonesia ini. Awalnya masih mau aku tunda dulu, tapi
semua itu berubah sejak banjir gelondongan melanda sebagian Sumatera dan Aceh. Hal
ini diakibatkan oleh penggundulan hutan yang dilakukan secara masif dan sangat
luas, bila dilihat dari udara, sangat mengerikan pemandangan kondisi hutan yang
gundul tersebut.
Gambar 1 Buku Reset
Indonesia
Maka tidak
heran bila dampak yang ditimbulkan menjadi sangat mengerikan bagi warga yang
terkena dampaknya. Nah diawali dari hal tersebut, lalu aku banyak mendengarkan
podcast yang membahas terkait hal tersebut, hingga sampailah aku pada podcast-nya
Dandhy Laksono dan Dokter Richard, yang selama mendengarkan podcast tersebut, bukan
hanya geleng-geleng saking speechless-nya tapi udah di tahap wah gila sih
ini. Dan tentunya pada podcast tersebut Dandhy Laksono beberapa kali mempromosikan
bukunya, yang membuatku jadi tertarik untuk langsung membeli buku tersebut.
Lalu karena
buku tersebut baru kudapat di akhir tahun, aku memutuskan untuk membacanya pada
awal tahun, dan benar saja, semangatku rasanya seperti langsung terpantik!
Bayangkan saja baru membaca prolognya saja sudah sangat DUAR! meledak-ledak
alias kok bisa cuma bahas masalah air minum bisa merembet ke keputusan politik
yang salah hingga berakibat pada kebijakan publik yang kacau yang menguntungkan
para pengusaha kelas kakap dan mengorbankan warga negara, tapi kita selama ini
tidak pernah protes, karena kita mengira kondisi tersebut adalah sesuatu yang
wajar dan normal, meminum air dari air minum kemasan, dan akan sangat aneh bila
kita minum langsung dari air keran uhuuuk.
Selain
menggebrak lewat ulasan tentang air minum kemasan dan hasil ekspedisi di tiga
sungai besar di Jawa, prolog Reset Indonesia juga meninggalkan kesan mendalam
lewat pengalaman keempat penulisnya yang berkeliling Indonesia dengan cara yang
sangat sederhana, yaitu dengan bermotoran, agar dapat menjelajah lebih jauh dan
mudah memasuki daerah-daerah yang sulit ditembus, untuk melihat sendiri, dan
mendengarkan kisah-kisah dari tempat-tempat yang selama ini nyaris tak pernah
disentuh media.
Gambar 2 Bagian Dalam
Buku Reset Indonesia
Mereka
mendatangi wilayah-wilayah yang sunyi dari sorotan, namun penuh dengan luka, dan
di sanalah aku merasa hatiku ikut mengerut, karena perjuangan warga dalam
mempertahankan tanah kelahiran dan ruang hidupnya terasa begitu dekat dan
nyata. Ada kisah-kisah yang membuat dada sesak, seperti tentang orang-orang
yang melawan dengan cara seadanya, berhadapan dengan kekuasaan yang
mengatasnamakan negara dan hukum, tapi justru menjelma sebagai penjajah di negerinya
sendiri. Di titik itu, rasa miris semakin menyesakkan, betapa selama ini kita
hidup dengan asumsi bahwa Indonesia baik-baik saja, sementara di banyak tempat,
warga negara justru sedang berjuang keras mempertahankan hak paling dasar,
yaitu tinggal, hidup, dan bertahan di tanahnya sendiri dari perampasan yang
dibungkus rapi dalam legalitas hukum yang semu.
Semakin jauh
aku membaca bab demi bab yang dibungkus rapi dan disusun dengan sangat menarik,
semakin terasa bahwa buku Reset Indonesia tidak berhenti pada sekadar
memaparkan carut-marut kondisi yang dihadapi warga negara. Setiap kisah yang
dihadirkan selalu ditutup dengan sesuatu yang jarang ditemui dalam bacaan
sejenis, yaitu solusi, bukan yang mengawang-awang, tapi contoh nyata dan
konkret yang sudah diterapkan, baik di daerah lain maupun di negara lain.
Bahasanya
terasa enak, mengalir, dan akrab, membuat halaman demi halaman bergerak tanpa
terasa melelahkan. Padahal bukunya cukup tebal, sekitar 400 halaman, tapi
justru termasuk salah satu bacaan yang bisa kuselesaikan dengan cepat, meski
dipenuhi coretan, catatan pinggir, dan begitu banyak sticky index mark
yang kutempelkan. Bukan hanya karena isinya penting dan informatif, tapi karena
buku ini membuka begitu banyak wawasan baru, didukung referensi yang kuat dari
jurnal dan buku, sekaligus membuatku ingin berhenti sejenak di banyak halaman
untuk mencerna, menandai, dan berpikir ulang tentang negeri ini.
Gambar 3 Penanda
pada Buku Reset Indonesia
Sebagai
penutup, membaca Reset Indonesia rasanya seperti ditarik keluar dari sikap
pasrah yang selama ini diam-diam kita pelihara sebagai warga negara. Buku ini
memaksa kita menimbang ulang gagasan-gagasan baru tentang Indonesia yang lebih
adil, adil seperti yang dijanjikan sila kelima pada Pancasila, bukan adil versi
angka dan grafik pertumbuhan ekonomi.
Ditutup dengan
Bab 6 berjudul Reset Indonesia, para penulis merangkum dengan telanjang
bagaimana bentuk pemerintahan yang selama ini kita kenal telah bergeser jauh
dari cita-citanya, seperti partai politik tak lagi sungguh-sungguh mewakili
suara rakyat, entah suara siapa yang sebenarnya mereka bela, karena kebijakan
yang lahir justru lebih sering melukai daripada melindungi warga negara.
Contoh nyata
dan dekat ialah UU Cipta Kerja atau Omnibus Law, sebuah kebijakan yang
dibungkus rapi atas nama investasi dan pembangunan, tapi pada praktiknya
mengorbankan hak-hak warga demi keuntungan segelintir orang. Di titik ini, buku
ini tidak lagi sekadar bacaan, melainkan panggilan pada kita warga negara, bahwa
negara seharusnya tidak dijual, tidak diobral, dan tidak diserahkan pada logika
pasar semata, dan bahwa kita, sebagai warga negara, tidak boleh terus diam
ketika keadilan dipinggirkan atas nama kemajuan, yang menguntungkan bagi
segelintir orang.
Gambar 4 Membuat
Catatan pada Buku Reset Indonesia
Pada akhirnya,
seperti epilog yang ditulis oleh Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu, gagasan me-reset
Indonesia terasa bukan sebagai metafora kosong, melainkan sebuah keharusan
yang mendesak, seperti sistem komputer yang tak lagi bisa diperbaiki dengan
tambalan kecil, Indonesia perlu dirombak dan dibangun ulang karena banyak hal
mendasar yang dirancang para founding fathers tak lagi berjalan
sebagaimana mestinya.
Pergeserannya
sudah terlalu jauh. Reset ini menuntut kita untuk berpikir ulang sebagai sesama
warga negara, terutama mereka yang hidup di luar Pulau Jawa, karena pembangunan
seharusnya tidak berhenti pada satu pusat, melainkan memastikan setiap pulau,
baik pulai yang besar maupun kecil, harus berdaulat dan mampu menjamin
kehidupan warganya.
Di titik inilah
pertanyaan tentang 2045 tak bisa lagi dijawab dengan slogan “Indonesia Emas”
semata, karena apakah benar kita sungguh menuju momen itu, atau justru meluncur
ke arah sebaliknya, Indonesia Cemas? Sebab jika melihat jejak yang sedang kita
lalui saat ini, rasanya kita tidak melangkah menuju emas, melainkan sudah
tergelincir dan terjerembap ke jalur yang berlawanan.
Salam
sadar dan tidak diam,
karena keadilan tak pernah lahir dari kebisuan.
Komentar
Posting Komentar