Menemukan Harta Karun di Tengah K-Pop: Kenapa ONEUS Terasa Berbeda
Menemukan Harta Karun di Tengah K-Pop: Kenapa ONEUS Terasa Berbeda
Di tengah
industri yang sering kali mengandalkan tren dan visual semata, ONEUS berdiri
sebagai performance-based
group yang membuktikan bahwa panggung adalah tentang seni dan pengalaman,
bukan sekadar tempat tampil belaka.
Identitas Grup
|
Nama |
: |
ONEUS |
|
Anggota |
: |
Seoho, Leedo, Keonhee, Hwanwoong, Xion |
|
Tahun Debut |
: |
2019 |
|
Genre |
: |
performance-based group |
|
Tema Besar |
: |
Panggung sebagai Teater (Mereka tidak hanya menyanyikan lagu;
mereka menghidupkannya. Sebagai performance-based group, ONEUS
membangun stage narrative, dengan vokal, koreografi, ekspresi, dan
kostum menyatu seperti sebuah pertunjukan teater dalam durasi tiga menit). |
|
Fakta Singkat |
: |
Hampir setiap comeback punya konsep yang kuat dan berbeda,
tapi tetap mempertahankan identitas teatrikal dan dramatis. |
Gambar 1
20250913 원어스 ONEUS - Your Idol (Saja Boys) | 2025 ONEUS
WORLD TOUR ‘H_OUR, US' Concert Day 1
https://www.youtube.com/watch?v=_LGTBUYho9Y&list=RD_LGTBUYho9Y&start_radio=1
Menjelang
akhir tahun 2025, di tengah ledakan popularitas KPop Demon Hunters
dengan soundtrack seperti Golden, Soda Pop, hingga Your
Idol, aku justru sibuk mencari versi-versi lain dari lagu-lagu tersebut, terutama
versi live yang dinyanyikan langsung oleh para pengisi suaranya. Namun,
versi semacam itu tidak mudah ditemukan, apalagi yang benar-benar autentik.
Hingga
tanpa sengaja, pencarianku membawaku pada sebuah video cover Your
Idol yang dibawakan oleh ONEUS, direkam oleh seorang penggemar saat mereka
menggelar konser di luar Korea.
Aku
membukanya tanpa minat khusus, tanpa ekspektasi apa pun, hanya sekadar
memastikan apakah video itu benar-benar live atau sekadar editan yang
menyatukan audio dan visual dengan rapi. Awalnya, aku bahkan sempat menyangkal
kemungkinan bahwa versi cover mereka bisa menyamai versi orisinalnya.
Ternyata,
sekali lagi, aku keliru.
Itu
benar-benar rekaman konser. Dinyanyikan secara langsung. Dan bukan hanya
sekadar bagus, tetapi presisi, stabil, dan penuh kendali. Bukan hanya soal
vokal yang solid, tetapi juga stage presence dan performa yang terasa
utuh. Gerak, ekspresi, energi, semuanya menyatu.
Di
titik itu aku benar-benar berhenti dan bertanya pada diri sendiri:
apakah memang ada grup sekeren ini?
Namun,
sekali lagi, aku berusaha menolak rasa kagum itu. Aku menolak untuk terlalu
terpesona. Jujur saja, saat itu aku sedang berada di fase lelah dengan K-Pop
dan segala dinamika fangirling. Drama, hype, ekspektasi, semuanya
terasa melelahkan. Aku hanya ingin menjadi pendengar biasa. Casual listener.
Mendengarkan lagu yang bagus, lalu selesai.
Karena
itu, aku sengaja tidak mencari tahu lebih dalam tentang ONEUS. Aku menahan
diri. Tidak ingin terseret lagi terlalu jauh. Meski begitu, aku tidak bisa
menyangkal satu hal: penampilan mereka benar-benar gacor parah.
Alih-alih
menjauh, aku justru semakin sering menemukan video cover mereka untuk Your
Idol dan Soda Pop yang diunggah penggemar di YouTube. Selama
beberapa hari, tanpa sadar, aku terjebak dalam pusaran video-video itu.
Menonton. Mengulang. Mengamati. Tapi tetap bersikeras untuk tidak mengeksplor
lagu-lagu ONEUS.
Hingga
suatu hari, ketika temanku mengetahui aku sedang mendengarkan cover Your
Idol, ia berkomentar bahwa memang konsep musik mereka ada yang serupa. Bisa
saja ia benar. Tapi lagi-lagi, aku menolak untuk terpengaruh. Dan membatasi
diri untuk puas hanya dengan mendengarkan versi cover Saja Boys.
Gambar 2
원어스 (ONEUS) - 가자 (LIT) [2025
APEC 뮤직페스타] | KBS 251021 방송
https://www.youtube.com/watch?v=4C5nCx6ClOs&list=RD4C5nCx6ClOs&start_radio=1
Sampai
algoritma YouTube, yang entah bekerja sebagai takdir atau kebetulan, menampilkan
sebuah video live performance mereka di KBS APEC, yang baru dilakukan
beberapa bulan sebelumnya. Thumbnail-nya langsung mencuri perhatian:
empat anggota ONEUS dengan pakaian tradisional Korea, berdiri dengan aura yang aur-auran.
Dan
tentu saja, dengan kesadaran penuh (dan sedikit rasa penasaran yang tak bisa
disangkal), aku meng-klik video itu.
Mereka
membawakan LIT dan LUNA. Dan bahkan sebelum lagu itu benar-benar mulai,
telingaku sudah tahu: ini easy-listening. Anehnya, aku biasanya perlu
mendengarkan lagu berkali-kali, bahkan dari grup favoritku sendiri, untuk
benar-benar menemukan titik “enak”-nya. Tapi kali ini berbeda. Lagu mereka
sudah memikat sejak detik pertama. Tanpa perlu pengulangan berkali-kali.
Belum
lagi outfit dan styling mereka yang menggunakan pakaian
tradisional Korea, bagaimana bilangnya ya, sangat memancarkan aura dan karisma
yang terasa autentik, bukan sekedar kostum semata. Bahkan salah satu anggotanya
ada yang ditata dengan rambut panjang, yang awalnya membuatku kaget, lalu
justru semakin memuji mereka dan tim yang ada di balik layar.
Dan
seolah itu belum cukup, gebrakan mereka terus berlanjut. Vokal yang stabil.
Atraksi yang menarik. Ekspresi yang hidup. Make-up yang mendukung
karakter. Stage presence yang penuh kendali. Koreografi yang teatrikal.
Hingga properti seperti kipas yang bukan sekadar aksesori, melainkan bagian
dari narasi pertunjukan.
Aku
hanya bisa melongo.
Bagaimana
mungkin ada grup dengan performa se-“edan” ini?
Semua aspek seperti diborong sekaligus. Mereka terlihat sangat profesional, seolah
standar mereka memang setinggi itu. Setinggi harapan orang tua, kalau boleh
sedikit hiperbola. Uhuuuk.
Dan
di titik itu, penolakanku mulai goyah.
Gambar 3
원어스(ONEUS)
'Same Scent' (Traditional ver.) Performance Video
https://www.youtube.com/watch?v=pIVfLX8zW00&list=RDpIVfLX8zW00&start_radio=1
Hingga
entah di waktu yang tak bisa lagi kuingat dengan pasti, Same Scent versi
tradisional datang sebagai dobrakan berikutnya. Lagu itu seolah membuka lapisan
baru, menunjukkan bahwa versi orisinal dan versi tradisionalnya sama-sama
memiliki daya tarik yang kuat, tetapi dengan energi yang berbeda.
Dan
lagi-lagi, aku lemah pada sentuhan tradisional.
Tanpa
sadar, aku mulai mengeksplor versi resmi mereka, seperti MV dan performance
stage, bukan lagi sekadar rekaman konser dari penggemar. Ketika menonton Same
Scent versi tradisional itu, reaksiku benar-benar seperti... bagaimana
mungkin lagu ini bisa berubah menjadi segila dan segacor ini?
Fix banget
sih, mereka tidak sedang bernyanyi. Tapi mereka sedang teatrikal.
Kelima
anggotanya terlihat memberikan seratus persen, tidak ada yang setengah hati,
tidak ada yang sekadar mengisi formasi. Ekspresi, gerak, dinamika panggung, semuanya
terasa seperti satu kesatuan yang dirancang dengan sangat epik, bukan sekedar seadanya.
Dan aku benar-benar kesulitan menamai perasaanku saat itu. Kagum? Terpana?
Terancam jatuh terlalu dalam?
Memang
boleh se-edan ini?
Gambar 4 dan 5
원어스
(ONEUS) - Same Scent [2022 KBS 가요대축제] |
KBS 221216 방송
https://www.youtube.com/watch?v=iClEbtfS3A4&list=RDiClEbtfS3A4&start_radio=1
Lalu
aku menonton versi yang mereka tampilkan di KBS, dan di titik itu, aku
benar-benar ter-homina-homina. Astaga. Ini jelas bukan hanya menyanyi. Ini
pertunjukan. Ini panggung yang diperlakukan seperti teater, bukan sekadar
tempat penampilan saja.
Sejak
momen itu, aku mulai mengeksplor musik mereka lebih jauh, meski masih dengan
batasan yang kubuat sendiri. Aku hanya berani menyentuh versi-versi
tradisional. Ada ketakutan aneh dalam diriku: bagaimana jika lagu-lagu mereka
yang lain justru meruntuhkan citra megah yang sudah terbangun di kepalaku? Aku
tidak ingin gambaran itu retak.
Jadi
aku hanya mengulang-ulang LIT dan LUNA versi teaternya. Memutar
kembali MV LUNA. Mengulang Same Scent versi tradisional seperti
ritual kecil yang tak mau kuhentikan.
Gambar 6
ONEUS(원어스)
'IKUK' MV
https://www.youtube.com/watch?v=KeC8J-xV7fk&list=RDKeC8J-xV7fk&start_radio=1
Sampai
akhirnya, entah bagaimana, aku mendengarkan IKUK (I Know U Know). Dan
reaksiku hanya satu: lah, ini apa lagi? Konsep vampir? Serius? Mereka beneran
banget?
Masih
dalam keadaan terheran-heran dengan konsepnya, aku kembali mendapati lagu itu easy-listening,
lagi-lagi tanpa perlu usaha berulang kali untuk “masuk” ke telingaku. Seolah
mereka tidak memberi jeda untukku beradaptasi.
Belum
selesai mencerna itu semua, YouTube kembali menyerang dengan rekomendasi lagu Now.
Dan anehnya, lagu itu juga sama mudahnya untuk dinikmati Di titik itu aku hanya
bisa berkata dalam hati: bisa nggak sih berhenti dulu? Kasih aku jarak dan
waktu sebentar? Rasanya seperti diserang bertubi-tubi oleh keindahan,
keajaiban, dan kegacoran dalam satu waktu. Aku tidak siap.
Dan
mungkin, memang tidak pernah benar-benar berniat untuk siap.
Apakah
berhenti sampai di situ?
Tentu
tidak.
Karena
ketika aku meninggalkan komentar di salah satu video mereka, seseorang membalas
dan menyarankan agar aku tidak hanya terpaku pada title track. Katanya,
kalau benar-benar ingin memahami mereka, aku harus menyelami B-side mereka juga,
yang konon tak kalah gacor.
Huft.
Title
track
saja sudah merepotkan hati, ini disuruh masuk lebih dalam lagi?
Tapi
baiklah. Dengan setengah pasrah dan setengah penasaran, aku mengikuti
rekomendasi itu. Dan tanpa sengaja, aku mendengarkan W dari album Dear.M.
Jujur, dari judulnya saja aku sempat berpikir, “W? Sesederhana itu?” Tapi
begitu musiknya mulai, reaksiku hanya satu: sudah laaaah… ini bagus. Lalu Devilish
Love. Bagus lagi. Apakah berhenti di situ? Tentu tidak.
Aku seperti sengaja menyiksa diri sendiri dengan terus menekan
tombol play:
Red Thread,
Blue Sky,
In My Arms,
(Ma Boy) Ma Girl,
Bbusyeo,
Reload,
Love Me or Loser,
Halley's Comet,
Gravitation,
dan masih banyak lagi.
Sudah.
Menangis saja.
Definisi
easy listening sejak detik pertama. Tidak perlu dipaksa. Tidak perlu
adaptasi. Lagu-lagu itu langsung menemukan tempatnya sendiri.
Dan
kupikir, apakah hanya sampai di sini? Tentu tidak. Karena tahap berikutnya
adalah yang paling berbahaya: memahami liriknya.
Begitu
aku mulai membaca dan mencerna maknanya, semuanya terasa makin dalam. W
misalnya, melankolis, tetapi menyimpan secercah harapan di sela-sela kepedihan.
Ada rasa menunggu, ada rasa ingin kembali, ada optimisme yang tidak berisik.
Hal
yang sama juga kurasakan ketika kembali mendengarkan A Song Written Easily.
Sendu. Galau. Patah hati. Galau brutalnya terlalu kuat.
Di titik itu aku mulai menyadari sesuatu: lagu, aransemen, lirik, vokal, semuanya bekerja sama. Tidak ada yang berjalan sendiri. Setiap elemen seperti sadar akan perannya dalam membangun atmosfer. Dan ketika semuanya menyatu, hasilnya bukan sekadar lagu yang enak didengar. Tapi masterpiece kecil yang membuatku diam sejenak. Edan.
Gambar 7
Sebagai
penutup, aku hanya ingin mengatakan terima kasih.
Terima
kasih untuk kerja keras ONEUS sejak debut hingga hari ini. Perjalanan kalian
tidak pernah terasa setengah-setengah. Setiap konsep digarap dengan serius.
Setiap panggung diperlakukan seperti ruang sakral untuk bercerita. Dan setiap
lagu, baik title track maupun B-side, dibangun dengan ketulusan yang
terasa sampai ke pendengar.
Tepat
hari ini, 20 Februari 2026, kalian resmi mengakhiri perjalanan bersama RBW
Entertainment dan memulai babak baru bersama B.WAVE Entertainment. Perpindahan
ini tentu bukan akhir, melainkan transisi. Dan sebagai penonton yang menemukan
kalian seperti menemukan harta karun, aku hanya bisa berharap babak baru ini
akan melahirkan gebrakan-gebrakan yang lebih gila lagi.
Karena
jika ada satu hal yang pasti, kalian tidak pernah tampil biasa-biasa saja.
Untuk
TOMOON, mungkin menunggu sudah menjadi bagian dari perjalanan. Dan mungkin ke
depan akan ada fase wajib militer yang membuat panggung terasa lebih sunyi dari
biasanya. Tapi karya tidak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal, berulang, dan
terus hidup di antara pendengarnya.
Sebenarnya,
aku juga berharap suatu hari bisa menyaksikan konser kalian berlima secara
langsung, merasakan sendiri stage narrative yang selama ini hanya
kutonton lewat layar. Jika waktu mengizinkan, dan jika takdir mempertemukan,
mungkin itu akan menjadi salah satu pertunjukan yang paling layak untuk
ditunggu.
Untuk
saat ini, tetaplah berkarya. Tetaplah berani. Karena di luar sana, ada banyak
orang, termasuk aku, yang menunggu dengan kagum. Dan mungkin, tanpa sengaja,
akan kembali jatuh lebih dalam.
원어스 화이팅!
Komentar
Posting Komentar